English French German Spain Italian Dutch
Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Home » , , , , » menghadapi kekerasan tanpa kekerasan

menghadapi kekerasan tanpa kekerasan

Written By Unknown on 10.04.2009 | 23:54

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”. QS. Al-Imran [3] ayat 159

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam memuji sahabatnya Asyaj Abdul Qais dengan sabdanya : ” Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah yakni sifat lemah lembut (sabar) dan ketenangan (tidak tergesa-gesa) .” (H.R Muslim).



Perintah dan tuntunan Allah swt dan hadits nabi Muhammad saw tersebut diatas, salah satu ajaran dan tuntunan mulia agar kita bersikap sabar, lemah lembut dan mengedepankan sopan santun dalam kita bergaul, bersahabat dan bermasyarakat.



Serta menjauhkan dari perangai yang mengedepankan kekerasan, setiap ada masalah tidak perlu harus kita selesaikan dengan kekerasan, pembunuhan dan atau perkelahian, bahkan jauhkan dari perkelahian massal.



Semua permasalahan yang kita hadapi pasti dapat kita selesaikan dengan senyum, dengan tersenyum tersebut Insya Allah akan terhindar penyelesaian permasalahan yang sedang kita hadapi dan sekaligus menghindarkan, menjauhkan serta meniadakan penyelesaian dengan kemarahan yang tidak menutup kemungkinan dengan adu tinju.



Miris rasanya bila mendengar diberbagai tempat terjadi tawuran, perkelahian masal bahkan sampai terjadi pembunuhan hanya gara - gara senggolan ketika nonton pertunjukan, akibat tawuran, atau perkelahian masal maka mengakibatkan jatuhnya korban, bahkan nyawa sudah tidak ada lagi harganya hanya gara gara sebuah pertunjukan.



Kalau dulu yang tawuran biasanya antar preman, maka sekarang tawuran dengan mudah terjadi antara orang-orang biasa didesa – desa terpencil hingga antar warga kampung ditengah - tengah kota Metropolitan umpamanya.



Tawuran dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya dengan mudah terjadi pada masyarakat dan lingkungan kampus yang seharusnya, kampus menjadi contoh model kerja intelektual bukan kerja otot.



Kekerasan dengan mudah juga dapat dilakukan oleh mereka yang katanya mahir politik dan pembela rakyat kecil, para aparat dan pejabat pemerintah, bahkan mereka yang mengatasnamakan suku dan agama.



Hampir hampir para pakar dan kita semua, menyimpulkan bahwa kekerasan bukan lagi merupakan sesuatu perbuatan yang memalukan bahkan hampir hampir sudah berubah menjadi sebuah budaya baru yakni “Budaya kekerasan“.



Banyak sudah para pakar dan pemikir, serta pejabat negri ini, dari tingat menengah sampai tingkat yang paling tinggi, dari tingkat guru taman kanak kanak sampai tingkat guru besar, bahkan dari tingkat guru ngaji sampai ulama besar, dengan dibantu berbagai kalangan kaum intektual, mengadakan studi tentang kekerasan dan upaya -upaya mencari solusi atas berbagai problem kekerasan yang selama ini melanda masyarakat kita.



Menelusuri berbagai literartur dan tulisan tentang kekerasan maka kita akan menemukan berbagai pengertian dan gambaran tentang kekerasan yang sangat beragam dan kompleks.



Kekerasan tidak hanya sebatas terlukanya fisik seseorang tapi bisa juga terlukanya psikologis orang lain, kekerasan tidak hanya terjadi ketika seorang suami menganiaya tubuh isterinya, tetapi kekerasan telah terjadi ketika seorang isteri didiamkan saja tanpa diajak komunikasi oleh suaminya juga tanpa ada penjelasan apapun penyebabnya, kekerasan juga dapat melanda sesama dengan teman sekerja, bahkan seorganisasi, satu sama lain saling berdiam diri tanpa memberikan penjelasan duduk permasalahan apa yang sedang terjadi, bahkan kekerasan ternyata sudah menyentuh seluruh dimensi kehidupan kita.



Yasraf Amir Piliang dalam bukunya “Sebuah Dunia Yang Menakutkan Mesin -mesin Kekerasan Dalam Jagat Raya Chaos” ( Mizan 2001 ) menjelaskan apabila istilah “Kekerasan“ diartikan sebagai suatu “Perlakuan dengan cara paksa“, maka apapun bentuk perlakuan yang didalamnya melekat unsur - unsur paksaan”, maka apapun bentuk perlakuan yang didalamnya melekat unsur - unsur pemaksaan, maka ia dapat dikatakan sebagai perlakuan kekerasan.



Oleh sebeb itu tidak hanya kekerasan senjata, akan tetapi juga kekerasan jiwa (psychal violence), tidak hanya ada kekerasan fisik (physical violence), akan tetapi juga kekersan simbolik (symbolic violence), tidak hanya ada kekerasan benda akan tetapi juga kekerasan bahasa (language violence), tidak hanya kekerasan makna, akan tetapi juga kekerasan citra (image violence), tidak hanya ada kekerasan mekanikal, akan tetapi juga kekerasan digital (digital violence)


Dalam pandangan Marsanu Windu (dalam bukunya “Dimensi kekerasan, tinjauan teoritis dan fenomina kekerasan, dalam buku “Melawan kekerasan tanpa kekerasan” ) berpendapat bahwa kekerasan dapat dicirikan dalam banyak hal.



Pertama jumlahnya yang semakin banyak, (frekwensinya yang semakin tinggi)

kedua, kualitas tindak kekerasannya yang semakin semena - mena

ketiga kompleksifikasi, yaitu tercampuranya berbagai unsur dalam tindakan kekerasan.



Menurut Busro Mugoddos dan kawan - kawan dalam bukunya “Kekerasan dalam politik yang over akting“, (LKBH UII Jogja, 1998) menyatakan bahwa inti kekerasan adalah memaksakan kehendak oleh satu orang terhadap orang lain, suatu kelompok lain, atau satu institusi terhadap institusi lain.

Dalam pengertian sosiologi, oleh aktor yang satu terhadap aktor lainnya.



Kekerasan yang juga perlu mendapat perhatian adalah kekerasan yang berkaitan dengan kekuasaan, karena kekerasan yang bersumber dari kekuasaan dapat melahirkan kekerasan yang sangat nyata namun sekaligus dapat mengakibatkan terjadinya bentuk kekerasan yang sangat halus dan tak tampak (karena sempurnanya rekayasa) yang mampu menimbulkan derita yang sulit disembuhkan.



Arbi Sanit dalam “tulisannya memahami kekerasan politik“ (dalam buku “Kekerasan dalam politik yang Over Akting“, LKBH UII Jogja, 1988) berpendapat bahwa kekerasan (politik) yang bersumber dari kekuasaan akan membawa implikasi yang sangat buruk terhadap kemanusian dan demokrasi, serta menumbuhkan kekecewaan mendasar dikalangan masyarakat luas.



Bentuk lain dari kekerasan yang sangat jahat yang bersumber dari kekuasaan adalah kejahatan yang dilakukan oleh mereka yang memegang kekuasaan.


Yasraf Amir Piliang dalam bukunya “Sebuah Dunia Yang Menakutkan, mesin - mesin kekerasan dalam jagat raya chaus, (Mizan, 2001) menyatakan bahwa apabila seorang penjahat melakukan tindakan pelanggaran hukum seperti pencurian, perampokan, penipuan, penyelundupan, pemerkosaan, pemerasan dll, maka ia telah melakukan tindakan kejahatan biasa.



Akan tetapi apabila tindak kejahatan itu dilakukan oleh penegak hukum sendiri, oleh aparat sendiri, oleh penguasa sendiri maka mereka telah melakukan kejahatan yang melampaui (beyond) kejahatan itu sendiri, mereka telah melakukan metakriminalitas (metacryminality) .



Ternyata kekarasan itu tidak hanya berkaitan dengan masalah menciderai fisik dan atau psikologis, kekerasan personal atau struktural, nyata (manifes) atau tersembunyi (laten), akan tetapi kekerasan juga berkaitan dengan segala bentuk kerugian dan penderitaan yang dialami oleh siapapun, segala pelanggaran hak azasi manusia juga berkaitan dengan segala bentuk kejahatan.


Kekerasan juga dapat dilakukan oleh siapapun dan menelan korban siapa saja, Oleh karena itu kekerasan harus dilawan dan diperangi bukan hanya oleh masing – masing individu akan tetapi harus dilawan dengan kekuatan gerakan bersama dan tanpa kekerasan, sebagaimana yang telah Rasullulloh saw, ajarkan pada kita semua, dengan pendekatan Agama, dengan bujuk rayu dan dengan nasehat serta dengan kelemah lembutan lainnya, sebagaimana yang telah Allah dan Rasululloh sebuatkan dalam awal pembukaan tulisan ini.



Semoga kita sadar dan menyadari serta terhindar dan menghindari dari kekerasan kekerasan baik yang kita timbulkan, maupun yang ditimbulkan oleh siapapun yang berada disekeliling kita, dan semoga kita semua dapat menjadi contoh tauladan bagi siapapun yang berada disekeliling kita, dan semoga kita semua selamat dunia sampai akhirat. www.kotasantri.com
Share this article :


 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. ISLAMIC READER - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger