English French German Spain Italian Dutch
Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Home » , » MENYEMPURNAKAN PELAKSANAAN IBADAH

MENYEMPURNAKAN PELAKSANAAN IBADAH

Written By Unknown on 8.04.2009 | 02:35

(JANGAN LUPA MEMBANGUN PERADABAN ISLAM )
Baru baru ini umat islam disibukkan oleh permasalahan penentuan arah kiblat (masjidil haram/ ka’bah ). Terdapat berbagai ajakan untuk meluruskan kiblat masjid dengan teknik rashdul qiblat. Hal ini disebabkan karena adanya syarat sah menghadap kearah kiblat dalam melaksanakan ibadah sholat, kecuali ketika sholat dalam kendaraan. Demikian juga disebabkan adanya anjuran untuk menghadapkan mayat ke kiblat. Demikian juga terdapat anjuran menghadap kiblat ketika azan, berdoa, berdzikir, membaca Al-Qur’an, menyembelih binatang kurban dan sebagainya. Karena itulah baru – baru ini, sebagaimana pada masa sebelumnya telah terjadi,dan mungkin juga pada masa yang datang, ada kesibukan ditengah umat islam untuk meluruskan arah kiblat.

Berdasarkan tinjauan astronomis atau ilmu falak, terdapat beberapa teknik yang dapat digunakan untuk meluruskan arah kiblat. Teknik tersebut antaranya menggunakan perkiraan arah, kompas, theodholit, rasi bintang, matahari dan rashdul qiblat atau zawal. Yang saat ini mendadak popular dan membuat sibuk sebagian umat silm adalah teknik rashdul qiblat yang memanfaatkan hari/waktu/keadaan istiwa a’zam, istiwa utama atau zawal. Berbagai daerah dengan perbedaan waktu maksimal 5 jam dapat menentukan arah kiblat dengan memperhatikan hari/waktu/keadaan matahari ketika tepat berada diatas ka’bah dan kota mekkah. Pada hari/waktu/keadaan tersebut, bayangan matahari secara presisi menunjukkan arah kota makkah dan ka’bah.
Istiwa utama di mekkah terjadi dua kali dalam setahun yaitu pada tanggal 28 mei sekitar pukul 12.18 waktu mekkah dan 16 juli sekitar pukul 12.27 waktu mekkah pada tahun-tahun biasa. Sedangkan pada tahun-tahun kabisat dan tahun berikutnya tanggal ini kadang maju satu hari (27 mei dan 15 juli ). Pada tahun 2009 istiwa utama terjadi masing-masing dua hari.pertama, tanggal 27 mei 2009 pukul 12:17:53 WK (waktu mekkah ) atau 16:17:53 WIB dan tanggal 28 mei 2009 pukul 12:18:01 WK atau 16:18:01 WIB lalu berikutnya terjadi pada tanggal 15 juli 2009 pukul 12:26:43 WK atau 16:26:43 WIB juga tanggal 16 juli 2009 pukul 12:26:48 WK atau 16:26:48 WIB.
Memang benar, bahwa kita selaku umat muslim dalam setiap perbuatan yang dilakukan harus berdasarkan aqidah dan hukum syara’ islam. Termasuk dalam hal ibadah sholat, keuali sholat diatas kendaraan diwajibkan untuk memenuhi syarat syahnya, termasuk syarat syah menghadap kiblat. Alloh SWT berfirman dalam surat Al- Baqorah 149 : “ dan dari mana saja engkau keluar ( untuk mengerjakan sholat ), maka hadapkanlah mukamu kea rah masjidil haram (ka’bah), dan sesungguhnya perintah berkiblat ke ka’bah itu adalah benar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), Allo tidak sekali-kali lalai dalam segala apa yang kamu lakukan.” Demikian juga Rosululloh SAW bersabda : “ baitulloh
(ka’bah) adalah kiblat bagi orang-orang yang tinggal di tanah haram (makkah) dan makkah adalah kiblat bagi seluruh penduduk bumi, timur dan barat dari umatku ( Hadist Rwayat Al baihaqi). Tidak hanya berkaitan dengan sholat, namun masih ada berbagai syariat lain yang juga menganjurkan untuk dilaksanakan dengan menghadap kiblat.
Yang menjadi permasalahan sekarang adalah apa sudah cukup kita hanya disibukkan dengan meluruskan arah kiblat dengan tepat, tanpa diiringi oleh perlurusan yang mendasar dalam peradaban? Memang meluruskan arah kiblat untuk menambah kesempurnaan ibadah sholat di masjid atau ibadah yang lain adalah perbuatan yang baik, apakah menggunakan teknik radhdul qiblat atau mengguakan teknik-teknik yang lain. Selama telah membawa pelakunya pada ghalabatudzdzan dalam pemenuhan syarat menghadap kiblat, maka berbagai teknik tersebut dapat digunakan. Namun yang harus selalu menjadi perhatian adalah bagaimana permasalahan pokok umat islam terselesaikan dan bagaimana masjid sebagai central penyelesaian permasalahan umat islam. Faktanya sekarang ini umat islam dalam kondisi terkungkung pemikiran sekuler, aqidah dan hukum syara’ islam belum seluruhnya diterapkan dalam setiap aspek kehidupan. Dan peran masjid dalam penyelesaian permasalahan umat masih belum maksimal.
Bangunan masjid adalah bentuk materi (madaniyah) yang sangat terasa manfaatnya jika terkait dengan peradaban yang melingkupinya. Sebaliknya, jika tidak terkait, maka masjid menjadi kurang bermanfaat. Sebagai contoh adalah ka’bah dan masjidil haram di bawah peradaban jahiliyah. Pada waktu itu ka’bah dan masjidil haram tidak digunakan utnuk menyembah kepada Alloh SWT, namun justru digunakan untuk menyekutukan Alloh SWT. Berhala dan patuh berjibun di ka’bah sebagai sembahan selain Alloh SWT. Hal itu terjadi karena ka’bah dan masjidil haram berada pada peradaban jahiliyah. Dengan demiian membangun peradaban sangat penting, supaya bangunn masjid benar-benar bermanfaat bagi umat islam.
Fakta juga membuktikan bahwa membangun peradaban terjadi terlebih dahuluebelum membangun masjid. Sebagai contoh, Nabi Muhammad SAW membangun peradaban islam di madinah, baru setelah itu membangun masjid di madinah. Conto lain masjidil haram dapat dikembalikan fungsinya secara sempurna sebagai baitullah setelah fatkhul mkkah. Dengan demikian, hendaknya kita mnyadari bahwa tugas umat islam saat ini bukan hanya menyibukkan diri dengan meluruskan shaf-shaf di masjid, namun juga membangun peradaban islam sehingga keberadaan masjid benar benar terasa bermanfaat bagi seluruh manusia.

Islam merupakan peradaban yang mulia
Peradaban islam meletakkan esensi dari didiriannya masjid, bukan hanya terpaku pada pelakssanaan ibdah, termasuk menentukan ketepatan arah kiblatnya saja, namun masjid benar-benar digunakan untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akherat. Pada masa Rosululloh, masjid merupakan pusat iadah, sekaligus pusat pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat. Beliau memimpin sholat berjamaah di masjid sekaligus Beliau menjalankan roda pemerintahan dan menyelesaikan urusan masyarakat dari masjid.
Memang betul yang menjadi esensi adalah ibadah slam, pemerintahan islam, dan pelayanan islam kepada rakyat.yang hak adalah ibadah islam, pemerintahan islam, dan pelayanan islam dan yang batil adalah ibadah nonislam, pemerintahan nonislam, dan pelayanan nonislam. Esensinya tidak langsung kepada bangunan masjid. Namun, menyatukan ibadah islampemerintahan islam, dan pelayanan islam I bangunan masjid juga tidak salah. Bahkan ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh sebab masjid adalah tempat sujud kepada Alloh SWT. Ketika dilakuka di masjid, maka pemerintahan dan pelayanannya benar-benar pemerintaha dan pelayanan yang sujud kepada Alloh SWT.adapun berbagai keuntungannya adalah: Pertama, ittiba’ (mengiuti) Rosululloh SAW. Kedua,memaksimalkan ibadah, pemerintahan, dan pelayanan islam. Ketiga, mengurangi kemungkinan penyalahgunaan pemerintahan dan pelayanan.
Namun demikian, seiring dengan perkembangan zaman dan derasnya aliran “sekularisasi”, pada saat ini tanpa disadari peranan masjid dalam kehidupan semakin menyempit bahkan masjid telah terpingirkan. Masjid bukan lagi tempat menyatukan ibdah, pemerintahan, dan pelayanan islam. Masjid hanya sebagai tempat ibadah. Bahkan pelayanan dan pemerintahan bukan lagi islam. Namun bercorak kapitalisme dan sekulerisme. Orang mempunyai kesibukan dan berlalu lalang di masjid hanya untuk beribdah semata. Sedangkan di luar ibadah, yaitu pemerintahan dan pelayanannya tidak terkait dengan masjid, bahkan pemerintahan dan pelayanannya tidak terkait dengan islam. Sungguh sangat ironis, peradaban islam telah ditinggalkan. Di tengah umat islam, tidak hanya masjid yang ditinggalkan, namun juga pemerintahan dan pelayanan islam.
Oleh karena itu, yang harus kita lakukan bukan hanya mengurusi bangunan masjid termasuk meluruskan kiblat.hal itu adalah suatu yang baik. Namu lebih dari itu yang harus dilakukan adalah membangun peradaban islam, termasuk menjadikan masjid sebagai pusat peradaban islam. Sangat aneh melihat sebagian uamat islam tidak perduli dengan masjid. Namun demikian, juga aneh melihat sebagian umat islam berlalu lalang setiap hari hanya untuk ibadah, sedangkan dalam urusan kehidupan lain mereka berlalu lalang tanpa terkait dengan islam dan masjid. Ysng tidak aneh adalah apapun kemanapun umat islam, pusatnya adalah islam dan masjid.

Khatimah
Tidak ada kata terlambat untuk kembali kepada peradaban islam. Apabila sekarang umat islam masih kalah dalam segala hal, maka kita harus yakin bahwa kemenangan islam akan seger\a terwujud dengan usaha yang kita lakukan untuk mewujudkan kembali peradaban islam yang dulu telah terjadi selama 1300 tahun. Dan lebih dari itu Alloh telah menjanjikan kemenangan diantara manusia. Sebagaimana disebutkan dalam firman Alloh SWT surat Ali-Imrran ayat 140 : “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapatkan pelajaran)” dengan keyakinan ini maka tugas kita sebagai umat islam adalah untuk terus brusaha menyatukan peradaban islam dengan masjid. “ sesungguhnya Alloh tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (Q.S Ar Ra’du:11)”


Share this article :


 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. ISLAMIC READER - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger