English French German Spain Italian Dutch
Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Home » , , , , » Makna Sebuah Konsistensi Peran Relawan

Makna Sebuah Konsistensi Peran Relawan

Written By Unknown on 11.29.2009 | 07:27

Sangat menarik jika setiap kita mau belajar dari pengalaman masa lalu, baik pengalaman pribadi maupun orang lain. Sejarah ditulis bukan untuk dikenang, melainkan untuk diambil makna penting dari setiap kejadian yang mampu terekam dengan baik, agar di kemudian hari semua yang membuka kembali lembaran sejarah itu bisa meneladani kebaikannya sekaligus tidak mengulangi kekeliruan yang ada. Keberhasilan dan kegagalan yang tercatat dalam sejarah sama sekali bukan untuk mendikte atau menghakimi setiap orang yang hidup sesudah sejarah itu tertulis, melainkan memberikan satu pernyataan bahwa setiap orang berhak mencatatkan diri dan prestasinya dalam sejarah. Bukan untuk mendapat pujian, tetapi agar di periode selanjutnya selalu ada keinginan untuk membuat sejarah baru.

Salah satu sejarah penting yang patut dipelajari adalah sejarah kegagalan dari orang-orang terdahulu. Sejarah mencatat Rasulullah dan kaum mukminin mengalami kekalahan dalam perang Uhud disebabkan oleh satu hal, yakni konsistensi. Barisan pemanah yang diperintahkan Rasululullah agar tetap berada di bukit tidak konsisten dan turun ke bawah, sehingga pos pemanah kosong dan kelemahan itulah yang dimanfaatkan oleh musuh yang kala itu dipimpin oleh Khalid bin Walid.
Konsistensi, catatan sejarah inilah yang sering disampaikan oleh banyak ustadz, guru, dosen di ruang kelas atau orang tua kepada anaknya dalam dongeng sebelum tidur. Betapa pentingnya seseorang memegang teguh amanah dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya, sebab bila ia lalai maka akibatnya sangat fatal. Pelajaran penting ini pula yang menjadi salah satu prinsip utama dalam manajemen relawan dalam penanganan bencana. Setiap relawan yang hadir di sebuah lokasi bencana harus berada dalam koordinasi yang jelas, jelas keahliannya, jelas fungsi dan perannya, jelas posisinya, juga tanggungjawabnya, serta jelas kepada siapa pula ia harus bertanggungjawab. Sekali lagi harus ditegaskan, relawan yang baik adalah yang mengerti dan tahu persis apa yang harus dikerjakannya saat ia berada di sebuah lokasi bencana.
Seperti halnya tim sepak bola, tidak semuanya menjadi seorang striker dan harus mencetak gol. Ada pula orang yang bertanggungjawab mengamankan barisan pertahanan dari serangan musuh. Begitu pula di dunia kerelawanan, selalu memerlukan orang dengan beragam keahlian khusus. Relawan yang tak berkeahlian bukan tak diperlukan, hanya saja ini soal pilihan. Mereka yang memiliki keterampilan yang diperlukan di lapangan lah yang lebih dulu diutamakan. Mirip seperti halnya pemain utama dan cadangan dalam sepak bola.
Ada relawan khusus search & rescue yang tugas utamanya adalah mencari korban hidup dan menyelamatkannya. Jika sudah tidak ditemukan lagi korban hidup, baru kemudian mengevakuasi korban yang tidak selamat. Perlu keahlian khusus dan terlatih untuk melakukan tugas ini. Sekadar contoh sederhana, korban yang masih hidup ketika ditemukan akan bisa kehilangan nyawa hanya karena salah dalam proses evakuasinya. Begitu pula dengan evakuasi jenazah korban bencana, yang sudah berhari-hari tentu sangat berbeda dengan yang baru sehari ditemukan. Relawan rescue harus tahu persis hal-hal apa yang terlebih dulu wajib dilakukannya sebelum evakuasi, termasuk memerhatikan kesehatan bagi dirinya. Tim rescue ini juga yang membuka jalan dan membentangkan tenda posko di berbagai titik bencana.
Sebagian relawan bertanggungjawab terhadap kesehatan korban bencana, pengungsi dan juga relawan. Mereka terdiri dari dokter, paramedis, dan ahli kesehatan alternatif seperti bekam dan tusuk jarum. Masih bergabung dalam tim medis ini juga para relawan dengan keterampilan khusus penyembuhan trauma (trauma healing). Mereka melayani ribuan pengungsi dengan berbagai keluhan fisik maupun psikis. Tidak melulu harus dengan jarum suntik atau obat, kadang para pengungsi langsung pulih dari sakitnya hanya dengan satu obat; senyum para relawan.
beberapa relawan diamanahi tugas di posko logistik, khusus mengamankan sekaligus mengatur alur distribusi barang bantuan yang datang dari berbagai pihak. Isinya beragam, mulai dari sembilan bahan pokok, tenda, selimut, tikar, obat-obatan, mainan, buku-buku, sampai pakaian layak pakai. Tim logistik ini ada dua lokasi, satu di kantor pusat sebagai penerima bantuan dari berbagai mitra di Jakarta dan sekitarnya, dan satu tim lagi bermarkas di lokasi bencana. Mereka terus berkoordinasi dan tak henti saling berkomunikasi, untuk memastikan amanah para donatur sampai ke lokasi bencana tanpa berkurang sedikitpun. Prinsip yang harus diperhatikan oleh tim logistik adalah “tidak boleh ada bantuan menumpuk di gudang logistik”, harus segera terdistribusi secara merata ke seluruh posko pengungsi yang telah dibuka oleh tim pendahulu.
Selain peran-peran di atas, ada juga peran penting yang kadang kurang dianggap strategis. Sebagian relawan yang baru datang sering merasa bahwa dirinya akan sangat penting jika berada di tim rescue atau tim lain berkesan heroik. Padahal masih banyak peran strategis yang jika pos itu ditinggalkan akan berdampak fatal bagi yang lain. Misalnya satu pos yang dipegang Dadang dan Idonk. Sejak beberapa kali bencana dua anak muda ini konsisten dengan tugasnya sebagai peracik makanan di dapur umum. Dibantu dengan beberapa relawan lainnya, ia punya kewajiban memberi asupan makanan bergizi bagi para pengungsi dan juga relawan. Mulai dari belanja bahan makanan, meracik, sampai semua makanan siap santap semua dilakukan Dadang dan kawan-kawan.
Bayangkan bagaimana jika Dadang dan kawan-kawan berpikir untuk bergerak ikut evakuasi atau distribusi logistik, siapa yang menyediakan makanan bagi relawan yang lain? Atau tiba-tiba tim rescue mengambil alih bagian dapur ingin masak sendiri. Bagaimana bila tim medis yang tugas pokoknya mengobati para korban justru harus berjibaku mengurusi pendataan masyarakat? Meski boleh dibilang dalam situasi darurat setiap orang dituntut untuk bisa melakukan banyak hal. Tetapi hal itu dilakukan hanya ketika tidak ada orang lain yang melakukan tugas-tugas khusus tersebut. Ketika relawan cukup banyak, maka pos-pos strategis itu harus dipegang kembali sesuai keahliannya.
Relawan dibalik layar pun harus tetap konsisten dengan peran dan tanggungjawabnya. Mereka antara lain tim data, yang setiap hari berkonsentrasi mengolah data di depan komputer. Atau bahkan para relawan yang sudah tak sabar untuk bisa berangkat ke lokasi bencana, namun diberi tugas untuk mengatur logistik dan data di kantor pusat. Mereka semua harus konsisten dengan pos strategisnya dan jangan pernah berpikir untuk meninggalkannya meski sesaat. Tindakan ceroboh, apalagi meninggalkan pos adalah kesalahan terbesar seorang relawan. Seperti halnya barisan para pemanah yang meninggalkan bukit ketika perang Uhud di masa Rasulullah Saw.
Relawan yang baik adalah yang mengerti apa yang harus dikerjakannya, komitmen pada tujuannya, serta konsisten pada tugas dan tanggungjawabnya. (gaw)
diambil dari kotasantri.com
Share this article :


 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. ISLAMIC READER - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger